Outbound
Training, Management Training Sport
Disusun
oleh :
Anwar
Iskandar Nst, S.Pd
ABSTRAK
ANWAR ISKANDAR NST, S.Pd : OLAHRAGA REKREASI. Outbound Training, Management Training Sport.
Karya
ilmiah yang berjudul Olahraga Rekreasi. Outbound Training,
Management Training Sport ini membahas mengenai perkembangan olahraga
rekreasi di Indonesia. Olahraga rekreasi adalah sebuah kegiatan yang di
dalamnya terkandung unsur-unsur atau nilai-nilai aktifitas olahraga yang
dilakukan pada tempat tertentu dengan tujuan mendapatkan suatu kepuasan
tersendiri, tanpa ada rasa beban.
Sebenarnya tanpa disadari banyak orang telah sering melakukan olahraga rekreasi seperti mendaki gunung, bermain arung jeram, bersepeda gunung, bermain bola di pantai, selancar, dan masih banyak lagi. Cendrung masyarakat umum menyebutnya dengan berpariwisata. Padahal kegiatan-kegiatan pariwisata semua adalah bentuk-bentuk aktivitas olahraga, hanya saja kegiatan-kegiatan pariwisata belum dikemas dalam bentuk sebuah aktifitas olahraga rekreasi.
Sebenarnya tanpa disadari banyak orang telah sering melakukan olahraga rekreasi seperti mendaki gunung, bermain arung jeram, bersepeda gunung, bermain bola di pantai, selancar, dan masih banyak lagi. Cendrung masyarakat umum menyebutnya dengan berpariwisata. Padahal kegiatan-kegiatan pariwisata semua adalah bentuk-bentuk aktivitas olahraga, hanya saja kegiatan-kegiatan pariwisata belum dikemas dalam bentuk sebuah aktifitas olahraga rekreasi.
Outbound Training
dapat diartikan sebagai metode pelatihan dalam rangka untuk mengembangkan
pemahaman, pengetahuan serta keterampilan seseorang. Outbound Training biasanya dilakukan di alam terbuka dengan
mensimulasikan beberapa permainan outbound (Outbound Games) yang
menarik.
Manajemen
adalah segenap aktifitas untuk mengerahkan sekelompok manusia dan menggerakkan
segala fasilitas dalam suatu usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai
tujuan tertentu (Sukintaka, 2000: 15-16). Menurut pendapat Desensi, Kelley, Blanton, and
Beitel (1998: 3): Sport management as any combination of skills related to
planning, organizing, directing, controlling, budgeting, leading, and
evaluating within the context of an organization or department whose primary product
or services is related to sport an or physical activity. Sedangkan menurut
pendapat Wawan S. Suherman (2002: 2) “manajemen olahraga adalah suatu
pendayagunaan dari fungsi-fungsi manajemen terutama dalam konteks
organisasi yang memiliki tujuan utama untuk menyediakan aktifitas,
produk, dan layanan olahraga atau kebugaran jasmani.”
Dengan semakin berkembangnya olahraga
rekreasi di Indonesia, ini menandakan semakin meningkat pula faktor ekonomi
dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya operator-operator
olahraga rekreasi ataupun outbound
training yang bermunculan di Indonesia, khususnya di Sumatera utara. Hal
ini sebenarnya merupakan peluang bagi masyarakat untuk berwirausaha ataupun
berkecimpung dalam penjualan jasa olahraga ini. Akan tetapi dengan semakin
banyaknya operator yang bermunculan, maka hal ini menandakan semakin ketat pula
persaingan yang terjadi. Setiap operator dituntut untuk memberikan pelayanan
atau service yang terbaik, sehingga
dibutuhkan pengelolaan serta pengaturan yang tepat atau yang biasa disebut
dengan management training sport.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Olahraga
saat ini telah sangat berkembang. Olahraga kini tidak hanya sebagai suatu
aktifitas untuk menjaga kesehatan tapi juga telah merambat hingga ke segala
aspek termasuk dunia industri. Hal ini dibuktikan dengan semakin bertambah
banyaknya produk barang-barang olahraga seperti sepatu, baju, peralatan fitness maupun berupa penjualan jasa
olahraga.
Olahraga adalah suatu kegiatan yang
amat berpengaruh terhadap perkembangan fisik serta mental seseorang. Ada banyak
alasan orang melakukan kegiatan olahraga, beberapanya diantaranya yaitu untuk
menghindari rasa bosan, untuk menyehatkan dan menyegarkan tubuh dan untuk
mengisi kekosongan waktu. Selain untuk mendapat kesegaran dan kebugaran,
olahraga juga bisa sebagai sumber pemasukan serta perbaikan ekonomi masyarakat.
Kegiatan olahraga sangat dibutuhkan
oleh masyarakat modern sekarang ini, ditengah-tengah kegiatan yang penuh setiap
harinya pasti dibutuhkan kegiatan lain untuk menyegarkan kembali tubuh yang
lelah akibat aktivitas rutin sehari-hari. Olahraga rekreasi dilakukan sebagai
bagian proses pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran. Jadi olahraga rekreasi
juga berfungsi untuk pemulihan kebugaran serta untuk menghilangkan rasa jenuh.
Menurut Darsono dan Setria (2008:5),
“Olahraga alam merupakan olahraga yang menawarkan berbagai petualangan,
tantangan dan sensasi. Sensasi pada olahraga alam berupa rasa kepuasan,
peningkatan mental atau keberanian, dan hal yang tidak bisa ditandingi”. Inilah
faktor mengapa orang-orang semakin menggemari olahraga alam yaitu adanya rasa
kepuasan tersendiri, adrenalin yang diuji, juga adanya kepuasan tersendiri
setelah melewati tantangan tersebut (adventure).
Beberapa contoh olahraga alam bebas yaitu panjat tebing, lintas alam, caving, arung jeram, gantole, ski air, off road ataupun Outbound
Training.
Ruang lingkup olahraga meliputi: Olahraga
pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi (UU No.3 Tahun 2005 BAB VI
Pasal 17). Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat
dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi
dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan , kebugaran, dan
kegembiraan. Olahraga rekreasi dilakukan pada waktu senggang atau waktu-waktu
luang.
Dengan semakin berkembangnya olahraga
rekreasi di Indonesia, ini menandakan semakin meningkat pula faktor ekonomi
dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya operator-operator
olahraga rekreasi ataupun outbound
training yang bermunculan di Indonesia, khususnya di Sumatera utara. Hal
ini sebenarnya merupakan peluang bagi masyarakat untuk berwirausaha ataupun
berkecimpung dalam penjualan jasa olahraga ini. Akan tetapi dengan semakin
banyaknya operator yang bermunculan, maka hal ini menandakan semakin ketat pula
persaingan yang terjadi. Setiap operator dituntut untuk memberikan pelayanan
atau service yang terbaik, sehingga
dibutuhkan pengelolaan serta pengaturan yang tepat atau yang biasa disebut
dengan management training sport.
B. TUJUAN.
1) Memacu pembinaan dan pengembangan
olahraga rekreasi yang dilaksanakan dan diarahkan untuk memusatkan olahraga
sebagai upaya mengembangkan kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan,
kebugaran, kegembiraan dan hubungan sosial.
2) Pembinaan dan pengembangan yang
dilaksanakan oleh pemerintah atau masyarakat dengan membangun dan memanfaatkan
potensi sumber daya yang ada.
3)Mengajak pengembangan olahraga
rekreasi dilaksanakan berbasis mayarakat dengan memperhatikan prinsip mudah,
murah, menarik, manfaat, dan massal.
4) Memberikan informasi mengenai peluang serta
persyaratan untuk menjadi operator, instruktur, ataupun orang yang bergerak di
bidang penjualan jasa olahraga ini.
5) Sebagai upaya menumbuh kembangkan
sanggar-sanggar, operator, dan mengaktifkan perkumpulan olahraga dalam
masyarakat, serta menyelenggarakan festival olahraga rekreasi yang berjenjang
dan berkelanjutan.
C. MANFAAT.
1) Sebagai sarana informasi agar lebih
mengetahui serta memahami Olahraga rekreasi.
2) Bahan untuk menyusun strategi management training sport dalam Outbound training
3) Bagi instruktur dan operator agar
dapat memberikan pelayanan yang memuaskan.
4) Sebagai masukan untuk dapat memberikan
Outbound training yang baik
5) Bahan acuan kegiatan Outbound training.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Olahraga Rekreasi
Rekreasi, berasal dari bahasa latin re-creare, yang secara harfiah berarti
‘membuat ulang’, adalah kegiatan yang dilakukan untuk penyegaran kembali
jasmani dan rohani seseorang. Hal ini adalah sebuah aktifitas yang dilakukan seseorang
selain pekerjaan. Kegiatan umum yang dilakukan untuk rekreasi adalah
pariwisata, olahraga, dan permainan.
Rekreasi pada hakikatnya merupakan
salah satu tujuan utama dari pariwisata apapun jenisnya. Dalam Kamus Besar
bahasa Indonesia (1997) disebutkan bahwa, pariwisata adalah aktifitas yang
berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi. Rekreasi itu sendiri mencakup dua
aspek, yaitu penyegaran kembali badan atau pikiranm, dan mendapatkan hiburan,
keadaan santai, dan kesenangan.
Olahraga rekreasi adalah sebuah
kegiatan yang di dalamnya terkandung unsur-unsur atau nilai-nilai aktifitas
olahraga yang dilakukan pada tempat tertentu dengan tujuan mendapatkan suatu
kepuasan tersendiri, tanpa ada rasa beban. Sebenarnya tanpa disadari banyak
orang telah sering melakukan olahraga rekreasi seperti mendaki gunung, bermain
arung jeram, bersepeda gunung, bermain bola di pantai, selancar, dan masih
banyak lagi. Cendrung masyarakat umum menyebutnya dengan berpariwisata. Padahal
kegiatan-kegiatan pariwisata semua adalah bentuk-bentuk aktivitas olahraga,
hanya saja kegiatan-kegiatan pariwisata belum dikemas dalam bentuk sebuah
aktifitas olahraga rekreasi.
Menurut undang-undang Sistem
Keoalahragaan Nasional tahun 2005 pasal 19 adalah :
1.
Olahraga
rekreasi dilakukan sebagai bagian dari proses pemulihan kembalikesehatan dan
kebugaran.
2.
Olahraga
rekreasi dapat dilaksanakan setiap orang, satuan pendidikan, lembaga,
perkumpulan, atau organisasi olahraga.
3.
Olahraga
rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 bertujuan untuk :
a.
Memperoleh
kesehatan, kebugaran jasmani, dan kegembiraan.
b.
Membangun
hubungan sosial
c.
Melestarikan
dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional.
4.
Pemerintah
baik pusat maupun daerah serta masyarakat berkewajiban menggali, mengembangkan,
dan memajukan olahraga rekreasi.
5.
Setiap
orang yang menyelenggarakan olahraga rekreasi tertentu yang mengandung resiko
terhadap kelestarian lingkungan, keterpeliharaan sarana, serta keselamatan dan
kesehatan wajib :
a.
Mentaati
ketentuan dan prosedur yang ditetapkan sesuai dengan jenis olahraga.
b.
Menyediakan
instruktur atau pemandu yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan sesuai
dengan jenis olahraga.
6.
Olahraga
rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat 5, harus memenuhi persyaratan yang
ditetapkan oleh perkumpulan atau organisasi olahraga.
Rekreasi biasanya dilakukan saat
seseorang memiliki waktu luang, ketika dia bebas dari tugas atau pekerjaan,
setelah kebutuhannya sehari-hari telah terpenuhi. Kamus Webster mendefenisikan
rekreasi sebagai “sarana untuk menyegarkan kembali atau hiburan” ( a mean of return braces or diversion).
Rekreasi dapat dinikmati, menyenangkan dan bisa pula tanpa membutuhkan biaya.
Rekreasi memulihkan kondisi tubuh dan pikiran, serta mengembalikan kesegaran.
Defenisi yang lebih tepat lagi dari
rekreasi adalah “kegiatan atau pengalaman sukarela yang dilakukan seseorang di
waktu luangnya, yang memberikan kepuasan dan kenikmatan pribadi. Meyer,
Brightbill, dan Sessoms memberikan Sembilan ciri-ciri dasar dari rekreasi,
yaitu :
1.
Rekreasi
merupakan kegiatan
2.
Bentuknya
bisa beraneka ragam
3.
Rekreasi
ditentukan oleh motivasi
4.
Rekreasi
dilakukan secara rutin
5.
Rekreasi
benar-benar sukarela
6.
Rekreasi
dilakukan secara universal dan diperlukan
7.
Rekreasi
adalah serius dan berguna.
Ensiklopedia Nasional
Indonesia Jilid 12 (dalam Karyono ; 1997:14) menyatakan bahwa “Pariwisata
merupakan kegiatan atau perjalanan seorang atau serombongan orang dari tempat
tinggalnya ke tempat dikota lain dalam jangka waktu tertentu.”
Secara etimologis, kata
“pariwisata” diidentifikasikan dengan kata “travel” dalam bahasa inggris yang
diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali dari satu tempat ke
tempat lain. Atas dasar itu pula dengan melihat situasi dan kondisi saat ini
pariwisata dapat diartikan “sebagai suatu perjalanan terencana yang dilakukan
secara individu atau kelompok dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan
untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan” (Wardiyanto & DR.M Baiquni ;
2011:3)
Seperti diungkap oleh WTO
( dalam Pitana, Gayatri: 2005:30 ), ada beberapa komponen pokok yang secara
umum disepakati didalam memberikan batasan mengenai kepariwisataan (khususnya
pariwisata internasional), yaitu sebagai berikut :
1. Traveller, yaitu orang yang
melakukan perjalanan antara dua atau lebih lokalitas.
2. Visitor, yaitu orang yang melakukan perjalan kedaerah yang bukan
tempat tinggalnya, kurang dari 12 bulan,
dan tujuan perjalannya bukanlah untuk terlibat dalam kegiatan untuk mencari
nafkah, pendapatan ataupun penghidupan ditempat tujuan.
3. Tourist, yaitu bagian dari visitor yang menghabiskan waktu paling
tidak 1 malam
(24
jam) didaerah yang dikunjungi.
Smith & Eadington (1996)
mengungkapkan bahwa pariwisata ada lima jenis yaitu :
1.
Pariwisata
etnis
2.
Pariwisata
budaya
3.
Pariwisata
historis
4.
Pariwisata
lingkungan
5.
Pariwisata
rekreasi.
Pariwisata yang satu berbeda dengan
pariwisata yang lainnya berdasarkan objek wisata yang disuguhkannya.
Berdasarkan pengelompokkan tersebut, fungsi rekreasi di alam terbuka mendekati
ke arah pariwisata rekreasi. Untuk pengembangan fungsi olahraga rekreasi di
alam terbuka dapat mengadaptasi prinsip-prinsip pengembangan pariwisata
rekreasi.
World
Trade Organization
menjelaskan pariwisata sebagai bentuk kegiatan wisatawan mengadakan perjalanan
untuk hiburan dan rekreasi, di dalamya mencakup rencana perjalanan, saat di
perjalanan, kegiatan, serta kenang-kenangan di tempat tujuan perjalanan wisata.
Jadi pariwisata meliputi semua aktifitas yang terjadi ketika wisatawan
mengadakan perjalanan. ( Ardhana dan Rucianawati,2002).
Menurut
J.J Spilane (1994), Adapun hal-hal yang mempengaruhi pengembangan
wisata meliputi banyak hal seperti :
1. Attractions
Sumber
daya alam merupakan faktor mutlak dalam dunia pariwisata. Hal itu disebabkan
bahwa wisata itu memang bergantung pada faktor alam. Tidak terlepas dari wisata
arung jeram, SDA memegang peranan yang amat penting terutama untuk memajukan
ataupun meningkatkan potensi dari pada suatu daerah tersebut. Menurut Spillane (1994 ; 63): “Ciri-ciri khas yang menarik
wisatawan adalah : (1) Keindahan alam; (2) Iklim dan cuaca; (3) Kebudayaan; (4)
Sejarah; (5)Etnicity; (6) Accessibility; (7) Marketing/pemasaran.”
Sumber
daya alam tersebut meliputi banyak hal, seperti : keadaan sungai; dalam hal ini
menyangkut mengenai layak atau tidaknya sungai untuk diarungi, letak daerah
wisata; menyangkut letak daerah wisata tersebut berupa jauh atau tidaknya dari
jalan umum, keadaan iklim ataupun cuaca di daerah tujuan wisata tersebut; di
negara kita hanya memliki dua musim yaitu musim hujan dan kemarau, pemanfaatan
lahan-lahan lain untuk semakin menumbuh kembangkan serta menarik minat
pengunjung untuk berkunjung ke tempat wisata tersebut.
Spillane (1994 ; 63) juga mengutarakan bahwa:“attractions mampu menarik wisatawan yang ingin mengunjunginya.
Dengan kata lain attractions merupakan hal utama yang dapat menarik wisatawan dan
mengembangkan industri pariwisata.”
Pemasaran merupakan langkah utama yang
dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaan, berkembang dan memperoleh laba.
Strategi pemasaran menurut Marpaung (2002: 98) adalah “Dasar dari
seluruh kebijaksanaan perusahaan, karena strategi pemasaran merupakan basis
dari penentuan serta memberikan pengarahan bagi keputusan perusahaan.”.
Dalam menentukan suatu
stategi pemasaran, perlu adanya manajemen pemasaran dari produk pariwisata yang
hendak ditawarkan pada wisatawan. Manajemen pemasaran menurut Marpaung (2002:
118) adalah :
“Proses
dari program-program analisis, perencanaan, pengembangan pelaksanaan,
pengkoordinasian dan pengawasan yang melibatkan pemikiran, penetapan harga,
promosi dan distribusi produk dan pelayanan serta desain ide-ide untuk
menciptakan dan menambah beneficial
enchanges melalui target pasar untuk pencapaian tujuan organisasi.”
Dari pemasaran ini juga
akan ber iringan dengan langkah promosi. Dalam promosi ini ada banyak hal yang
akan ditawarkan seperti paket-paket wisata. Dalam pemasaran juga akan dilakukan
dalam banyak langkah seperti melakukan promosi melalui media massa, Koran,
majalah, iklan luar ruangan, katalog, media online seperti internet maupun facebook serta melaui media televisi.
2.
Facilities
Prasarana
wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang mutlak
dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti
jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya.
Untuk kesiapan objek-objek wisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan di daerah
tujuan wisata, prasarana wisata tersebut perlu dibangun dengan disesuaikan
dengan lokasi dan kondisi objek wisata yang bersangkutan.
Pembangunan
prasarana wisata yang mempertimbangkan kondisi dan lokasi akan meningkatkan
aksesibilitas suatu objek wisata yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan
daya tarik objek wisata itu sendiri
Sarana
wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk
melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya. Pembangunan
sarana wisata disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan baik kuantitatif maupun
kualitatif. Lebih dari itu selera pasar pun dapat menentukan tuntunan sarana
yang dimaksud. Tak semua objek wisata memerlukan sarana yang sama atau lengkap.
Pengadaan sarana wisata tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.
Sarana wisata kuantitatif menunjukkan pada jumlah sarana wisata yang harus disediakan,
dan secara kuantitatif menunjukkan pada mutu pelayanan yang diberikan dan yang
tercermin pada kepuasan wisatawan yang memperoleh pelayanan.
Sarana
dan prasarana haruslah memenuhi standar keamanan. Dengan
standard keamanan ataupun safety
procedure diharapakan dapat mengurangi resiko kecelakaan bagi para
pengunjung. Standar keamanan tersebut harus dirancang sedemikian rupa, seperti
dengan pemakaian alat ataupun sarana yang layak pakai, menyediakan asuransi
maupun tim SAR pada saat melakukan aktivitas. Secara langsung, tingkat keamanan
serta jaminan keselamatan yang tinggi menjadi nilai plus bagi pengunjung untuk mau datang lagi ketempat wisata
tersebut.
3. Infrastruktur
Menurut
spillane (1994 ; 69), “infrastruktur termasuk semua kontruksi di bawah dan di atas
tanah dari suatu wilayah atau daerah. Hal ini termasuk :
(1)
Sistem pengairan
(2)
Jaringan komunikasi
(3)
Fasilitas kesehatan
(4) Terminal-terminal pengangkutan
(5) Sumber listrik dan energy
(6) Sistem pembuangan kotoran
(7) Jalan-jalan raya
(8) Sistem keamanan.”
4. Transportation
Menurut
spillane (1994 ; 71), “ada beberapa usul mengenai terminal pengangkutan dan
fasilitasnya yang dapat menjadi semacam pedoman termasuk :
a)
Informasi lengkap tentang fasilitas, lokasi terminal, dan
pelayanan pengangkutan lokal di tempat
tujuan (destination).
b)
Sistem keamanan di terminal harus disediakan.
c)
Sistem informasi harus menyediakan data tentang pelayanan
pengangkutan lain.
d)
suatu sistem standar untuk tanda dan simbol lalu lintas.
e)
Informasi
terbaru tentang jadwal keberangkatan.
f)
tenaga
kerja yang tersedia untuk membantu para penumpang.
g)
Informasi
lengkap harus tersedia meliputi lokasi, tarif dll.
h)
Peta
kota harus tersedia bagi pendatang.”
5. Hospitality
Keberhasilan
pengembangan pariwisata selain tergantung pada ketersediaan daya tarik wisata ,
juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan sumber daya manusia yang mengelolanya.
Sumber daya manusia dapat berperan sebagai pelaku pariwisata maupun sebagai
pengelola usaha-usaha pariwisata, misalnya: sebagai wisatawan, masyarakat setempat,
maupun sebagai pengembang dan pengelola industri pariwisata.
Nyaman
atau tidaknya wisatawan di suatu tempat wisata tidak terlepas dari keramah tamahan
penduduk setempat terhadap wisatawan. Dalam hal inilah perlu diberikan
pengembangan serta pengetahuan kepada para penduduk untuk meningkatkan service didaerah wisata tersebut.
Senada
dengan J.J Spilane, Okspin (1999) mengemukakan pariwisata mempunyai empat aspek
utama yang memperkuat peran industri, yaitu sebagai berikut :
1.
Atraksi
yang meliputi pertunjukan sumber daya alam, kebudayaan, entitas, dan hiburan.
2.
Fasilitas
yang meliputi penginapan,restoran, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur.
3.
Transportasi
wisatawan dalam menuju kembali dari objek wisata.
4.
Sikap
dan keramahan dalam pelayanan.
Menurut Okspin (1999), keempat aspek
tersebut menjadi persoalan penting dalam pengembangan industri pariwisata. Para
professional yang bergerak di bidang pariwisata selalu berkembang dan menciptakan objek baru bagi kunjungan wisata (Sinclair
& Stabler,1991).
Permintaan konsumen membutuhkan
pilihan yang beragam serta standart pelayanan
yang tinggi dalam hal kenyamanan, keamanan namun tetap menginginkan biaya yang
lebih murah. Profesionalisme tenaga profesi ditantang untuk mampu menjawab
kebutuhan konsumen yang semakin sadar akan faktor kenyamanan, keamanan dan
keselamatan kegiatan wisata yang diikutinya.
B. Outbound Training
Banyak
bermunculan pendapat dari banyak orang mengenai apa itu sebenarnya Outbound Training. Agar tidak terjadi
kesimpang siuran mengenai informasi ini ,maka ada baiknya disimak apa itu
pengertian Outbound Training dari
seorang pakar Psikologi yang lebih sering dikenal sebagai “Professor” Outboundnya Indonesia yaitu Prof. Dr.
Djamaludin Ancok. Menurut beliau outbound training adalah “salah satu bentuk
kegiatan yang paling efektif untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas adalah
pembentukan kerja sama tim yang dilakukan melalui outbond training di alam
terbuka”.
Pada awalnya metode outbound merupakan metode yang
dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar manusia dengan berinteraksi
dengan alam. Oleh karenanya muncul pengertian outbound sebagai suatu kegiatan
belajar yang dilakukan di alam terbuka. Pengertian yang muncul dari berbagai
tokoh kemudian menambahkan bahwa tujuan Outbound tidak hanya
mengefektifkan pencapaian materi belajar namun juga mengembangkan berbagai
karakter yang diharapkan muncul dalam proses outbound itu sendiri.
Outbound
berasal dari kata Out of Boundaries yang artinya pembelajaran dengan
menggunakan metode yang berbeda dari biasanya. Outbound adalah kegiatan
di alam terbuka. Outbound juga dapat memacu semangat belajar. Outbound
merupakan sarana penambah wawasan pengetahuan yang didapat dari serangkaian
pengalaman berpetualang sehingga dapat memacu semangat dan kreativitas
seseorang. (http://www.kimpraswil.go.id/itjen/news/2003/ij0306251).
Diungkapkan oleh Asti (2009), Outbound adalah
kegiatan pelatihan di alam terbuka yang memerlukan ketahanan sekaligus
tantangan fisik yang besar (Asti, 2009). Sedangkan menurt Gras (1993) Outbound
Management Training adalah metode pelatihan untuk meningkatkan performa
organisasi melalui pembelajaran dan pengalaman. Program-program yang diadakan
seringkali mengacu kepada pelatihan melalui petualangan dan pengembangan
manajemen outdoor (di luar kelas) yang juga dapat digunakan untuk terapi
kejiwaan.
Tidak
jauh berbeda dari itu, Taufik (2010) menyebutkan Outbound sebagai
serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sebuah tim dan dibantu oleh
instruktur. Program-program pada Outbound Management Training merupakan
program-program berupa aktifitas atau kegiatan yang dirancang untuk
meningkatkan aspek-aspek seperti: leadership, communication skills,
planning, change management, delegation, teamwork, dan motivation.
Outbound training
berasal dari kata outbound dan training, maka sebelum mendefinisikan Outbound dan Outbound training, sebelumnya akan kita bahas mengenai pengertian training.
Training berasal dari bahasa Inggris yang berarti pelatihan. Namun lebih jelasnya, pemahaman tentang training adalah sebagai berikut:
Training berasal dari bahasa Inggris yang berarti pelatihan. Namun lebih jelasnya, pemahaman tentang training adalah sebagai berikut:
1.
Mengembangkan pemahaman,
pengetahuan, dan keterampilan
2.
Diberikan secara instruksional baik
indoor maupun outdoor
3.
Objeknya seseorang atau sekelompok
orang
4.
Sasarannya untuk memberikan
pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan kepada audience sesuai dengan kebutuhannya
5.
Prosesnya mempelajari dan
mempraktekkan dengan menuruti prosedur sehingga menjadi kebiasaan
6. Hasilnya
terlihat dengan adanya perubahan, tepatnya perbaikan cara kerja di tempat
kerja.
Dari
pengertian tersebut, didapatkan informasi bahwa training bertujuan mengembangkan
pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini sangat senada dengan tujuan
pendidikan untuk mengembangkan potensi, sehingga menganggap training merupakan suatu proses
pembelajaran juga.
Outbound
merupakan singkatan dari “out of boundaries”, yang apabila diterjemahkan
bebas menjadi menembus batas. Adapula yang mendefinisikan secara per kata yaitu
dari kata out yang artinya keluar, dan bond yang artinya ikatan,
sehingga definisi outbond ialah keluar menuju alam bebas dan saling punya keterikatan,
baik dengan alam maupun rekan dalam satu tim. Masing-masing permainan memiliki
tujuan tertentu.Tahapan-tahapan dalam pembelajaran outbound training adalah
sebagai berikut:
1. Pembentukan
pengalaman
2. Perenungan
pengalaman
3. Pembentukan
konsep
4. Pengujian
konsep
Dari beberapa tahapan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
dalam Outbound training juga
menyampaikan materi secara mendalam, dan mengupayakan para audience juga dapat menyerap materi melalui tahapan-tahapan
tersebut. Maka proses pembelajaran dalam outbound
training menanamkan peserta atau karyawan belajar dengan membentuk
pengetahuannya sendiri, yang dikenal dengan pendekatan konstruktivisme dalam
pembelajaran sehingga akan terjadi proses pembelajaran dimana peserta atau
karyawan nantinya bisa mengembangkan potensinya sendiri seperti yang
dikehendaki definisi pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20
tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1.
Beberapa Materi yang sering dibawakan dalam program Outbound Training adalah sebagai berikut
:
Ice
Breaking
Ice
Breaking digunakan untuk menghilangkan ketegangan peserta dan menstimulus
antusiasme peserta untuk siap mengikuti seluruh kegiatan berikutnya.
Fun Games
Fun Games adalah jenis games yang
digunakan untuk membuka personal block dan menggairahkan suasana pelatihan.
Team
Building Games
Games Team Building adalah games yang
berkaitan dengan kemampuan personal dalam bekerjasama dengan orang lain.
Effective
Communication Games
Games yang digunakan untuk meningkatkan
kemampuan komunikasi yang meliputi: komunikasi efektif, kemampuan mendengarkan
dan memahami pendapat orang lain, serta pengeksplorasian gagasan.
Problem
Solving Games
Games yang digunakan untuk meningkatkan
kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
Synergy
Games
Games
yang digunakan untuk menyadarkan betapa pentingnya setiap bagian dalam sebuah
perusahaan/organisasi.
C. Management Training sport
Manajemen
adalah segenap aktifitas untuk mengerahkan sekelompok manusia dan menggerakkan
segala fasilitas dalam suatu usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai
tujuan tertentu (Sukintaka, 2000: 15-16). Menurut pendapat Desensi, Kelley, Blanton, and
Beitel (1998: 3): Sport management as any combination of skills related to
planning, organizing, directing, controlling, budgeting, leading, and
evaluating within the context of an organization or department whose primary product
or services is related to sport an or physical activity. Sedangkan menurut
pendapat Wawan S. Suherman (2002: 2) “manajemen olahraga adalah suatu
pendayagunaan dari fungsi-fungsi manajemen terutama dalam konteks
organisasi yang memiliki tujuan utama untuk menyediakan aktifitas,
produk, dan layanan olahraga atau kebugaran jasmani.”
Menurut
pendapat Sukintaka (2000: 2) menjelaskan bahwa dalam sebuah manajemen yang
ideal terdapat enam fungsi manajemen yaitu meliputi: (1) Pengorganisasian (Organizing)
merupakan suatu kelompok kerjasama antara seseorang dengan orang lain atau
kelompok yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. (2) Perencanaan (Planning)
merupakan suatu tindakan teratur yang didasari dengan pemikiran yang cermat
sebelum melakukan usaha pencapaian tujuan. (3) Penentuan Keputusan (Decision
Making) merupakan suatu aktifitas untuk mengakhiri pertentangan mengenai
sesuatu hal atau pemilihan terhadap bermacammacam alternatif (choice making)
selama kerja sama berlangsung.
Tujuan
akhir dari pengambilan keputusan adalah untuk menentukan suatu tindakan sebagai
cara untuk memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi (problem solving).
(4) Pembimbingan atau Kepemimpinan (Directing) merupakan suatu aktifitas
untuk memberikan petunjuk atau perintah untuk mempengaruhi dan mengarahkan
anggota dalam suatu kegiatan atau kerja sama untuk agar melaksanakan tugas. (5)
Pengendalian (Controlling) merupakan suatu aktifitas yang berusaha mengupayakan
agar tugas atau kerja sama yang dilakukan itu dapat berhasil sesuai dengan
rencana, perintah, petunjuk, serta ketentuan-ketentuan lain yang berlaku dan
telah ditetapkan agar tidak terjadi penyimpangan. (6) Penyempurnaa(Improvement)
merupakan suatu aktifitas yang berusaha untuk memperbaiki dan menyempurnakan
segala segi dalam suatu usaha kerja sama untuk mencapai hasil kinerja yang lebih
baik dari hasil kinerja yang sebelumnya.
Selanjutnya
Stoner (1992:176-278) menambahkan lagi 2 fungsi manajemen lainnya yaitu: (7) Penataan
Staf dan Personalia (Staffing) merupakan fungsi manajemen yang
berhubungan dengan pengadaan atau rekrutmen, penempatan, pelatihan, dan
pengembangan para anggota organisasi sesuai dengan kebutuhan organisasi dan
sumber daya manusia yang dimiliki. (8)Penganggaran Keuangan (Budgeting)
merupakan faktor yang sangat penting karena berkaitan dengan penggunaan sumber
dana yang dapat berpengarus pada laba rugi suatu organisasi. Menurut pendapat
Alex Gunur (1979: 11–12 ) agar dalam sebuah proses manajemen dapat berjalan
dengan baik maka ada beberapa sarana atau alat yang harus ada dan dipenuhi oleh
seseorang atau organisai. Sarana atau alat tersebut dikenal dengan istilah “Tool
Of Management” atau “6 M” yaitu meliputi:
(a)
manusia/man (e)
alat/mechines,
(b)
uang/money (f
) pasar/market.
(c) bahan/material,
(d)
metode/methods,
Outbound Management
Training adalah salah
satu metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kerjasama
dalam suatu kelompok melalui proses pembelajaran yang diperoleh secara nyata.
Pada prakteknya, program ini biasanya dilakukan untuk meningkatkan performa
organisasi dalam suatu perusahaan melalui kegiatan di luar ruang (outdoor),
dengan nuansa petualangan dan diisi dengan pelatihan untuk meningkatkan kualitas
dari suatu kelompok kerja.
Yang
dimaksud dengan usaha untuk meningkatan kualitas tersebut antara lain
meningkatkan kepeminpinan individu dalam kelompok (leadership), kemampuan untuk berkomunikasi (communication skills), kemampuan untuk membuat dan mengeksekusi
suatu rencana (planning), fleksibelitas
dalam bekerja (change management),
pendelegasian pekerjaan (delegation),
teamwork, dan peningkatan motivasi (motivation).
Outbound management Training
dapat juga diartikan sebagai metode pelatihan dalam rangka untuk mengembangkan
pemahaman, pengetahuan serta keterampilan seseorang. Outbound Training biasanya dilakukan di alam terbuka dengan
mensimulasikan beberapa permainan outbound (Outbound Games) yang
menarik. Secara keseluruhan Outbound Training bertujuan untuk:
·
Menggali potensi diri dan kualitas
Pribadi
·
Membentuk Individu yang handal
·
Menumbuhkan Keakraban
·
sebagai sarana rekreasi / fun activity.
Peserta kegiatan Outbound Training akan dibagi ke dalam beberapa regu dan diberi persoalan
untuk dipecahkan bersama-sama dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh
instruktur. Hasil yang diperoleh serta hambatan yang dialami akan didiskusikan
bersama-sama untuk mengidentifikasi apa-apa saja yang menjadi penghambat, lalu
kemudian menyusun strategi untuk memecahkan persoalan yang diberikan berikutnya
sambil mencoba efektifitas strategi tersebut. Demikian suatu regu harus
mendapatkan peningkatan kerjasama dan individu yang mereka dapatkan sendiri
dari setiap persoalan yang diberikan.
Program
Outbound Training dapat disusun seperti berikut :
1.
Perkenalan dan peregangan
(stretching)
2.
Ice Breaking
3.
Penjelasan Program
4.
Perencanaan (planning)
5.
Pelaksanaan Kegiatan (action)
6.
Refleksi (reflection) dan evaluasi
(evaluation)
7.
Pelaporan (reporting)
Outbound management training
yang baik tergantung dari kreatifitas kita sebagai seorang instruktur ataupun
operator. Sebagai contoh,Latihan Outbound
training untuk manajemen SDM dimana program pelatihan pengembangan
kerjasama kelompok menggunakan media luar ruang (outdoor), didalam ruangan (Indoor)
serta processing feedback session.
Yang termasuk dalam program ini antara lain: Pengembangan wawasan dan
pengetahuan (knowledge), kerjasama
tim (team work), motivasi kerja (motivation work), kepercayaan diri (personal confidence), kompetisi (Kompetitif), kepemimpinan (Leadership). Program manajemen outbound
ini lebih ditekankan pada pengembangan manajemen karyawan perusahaan / instansi
pemerintah (60% Games dan 40 % diskusi), efektif kegiatan 1 sampai 5 hari,
disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
BAB III
STUDI
KASUS
Tentu
kita pernah mendengar kata “ Outbound
Training, “ tapi tidak banyak diantara kita yang tahu apa itu Outbound training. Secara mudah Outbound training dapat diartikan
sebagai salah satu metode pelatihan yang menggunakan alam sebagai media
pembelajarannya.
Apa yang disebut sebagai Outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).
Apa yang disebut sebagai Outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).
Handriatno
Waseso dari RAKATA, salah satu operator
pelatihan di alam terbuka mengatakan : “dalam literatur belajar dari pengalaman,
tak pernah dikenal istilah outbound training. Yang ada itu, outdoor based
training. Mungkin salah kaprah ini karena operator pertama yang memasarkan
pelatihan model ini di Indonesia adalah Outward
Bound Indonesia (OBI). Karena keseringan disebut akhirnya keluar istilah outbound training,” tutur Handriatno
mencoba meraba awal mula salah kaprah tadi.
Outbound training
merupakan jenis latihan di alam terbuka (outdoor)
untuk pengembangan diri (self development)
yang disimulasi melalui permainan-permainan edukatif (educative game) baik secara individual maupun kelompok dengan
tujuan untuk meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, berpikir kreatif, rasa
kebersamaan, tanggung jawab, komunikasi, rasa saling percaya, dll. Training dalam Outbound dapat diikuti oleh semua kalangan dan semua usia dari
anak-anak sampai dewasa. Setiap game outbound
mempunyai tujuan-tujuan yang disesuaikan seperti : team building, communication skills, problem solving motivating dan
challanges.
Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL. Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.
Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL. Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.
kegiatan
EL itu tak terbatas belajar di alam terbuka. Cakupannya bisa dari bercocok
tanam sampai ke conflict resolution. Dari assessment
(psikologis) sampai ke perkembangan remaja. Dari skill training sampai ke model-model teori. Malahan sebagian besar
orang menyebut bahwa semua jenis pendidikan adalah EL.
Namun
sebelum outbound training dilakukan, tentunya harus dilakukan penyelidikan
tentang materi yang diperlukan audience, kemudian menyusun kurikulum dan
permainan yang dapat disesuaikan dengan goal dari outbound tersebut. Hal ini
identik dengan kegiatan merancang perencanaan pembelajaran. Sehingga terjadi
pembelajaran yang efektif dari outbound training tersebut. Disamping itu, jika
materi yang disampaikan adalah matematika, maka akan terjadi pembelajaran
matematika dalam outbound training tersebut.
Outbound training
akan membawa efek positif bagi pesertanya. Sebagai salah satu contoh, banyak
karyawan yang jenuh dan stress dengan pekerjaanya. Ini akibat kondisi psikologisnya yang sangat
terbebani. Dengan Outbound training diharapkan Karyawan akan segera beradaptasi
dengan kondisi menekan tersebut, kemudian memikirkan alternatif solusi
pemecahan permasalahan organisasi. Hambatan dan keterbatasan dijadikan
kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi sehingga produktivitas kerjanya
semakin maksimal.
Bermain tapi bukan main-main. Fun tapi full learning point. Inilah unsur lebih manajemen outbound training yang ditawarkan.
Belajar melalui proses mengalami sendiri (outbound
training), berinteraksi secara intens sambil belajar dengan rekan
sehari-hari dalam pekerjaan melalui simulasi game outbound yang dilakukan di alam terbuka, adalah pengalaman
penuh makna.
Outbound Management
Training dewasa ini
sangat diminati dan berkembang cukup pesat, hal ini disebabkan karena sifatnya
yang cenderung menyenangkan bahkan bagi kebanyakan orang terasa seperti
refreshing, dengan kombinasi kegiatan-kegiatan alam seperti arung jeram dan
permainan paintball. Selain itu masing-masing individu peserta akan merasa
lebih dihargai karena terlibat secara langsung dalam pemecahan masalah, bahkan
seringkali terlihat bahwa individu yang notabene seorang bawahan di kantor
lebih menonjol dibandingkan seorang atasan. Outbound
Training juga dianggap lebih memberikan hasil nyata, tepat sasaran dan
memberikan hasil yang lebih “lengket” pada peserta dibandingkan jenis training lainnya.
Dalam
merencanakan Outbound Management Training,
sebagai operator ataupun seorang instruktur ada enam prinsip dasar dalam
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang harus dijawab terlebih dahulu. Prinsip
ini dikenal dengan sebutan Prinsip 5 W 1 H, yaitu :
1. Who
:
Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini, bagaimana karakter mereka,
kebutuhan mereka, minat mereka,
dan kemampuannya.
2. What : Apa saja bentuk aktivitas, apa temanya, apa
tujuan utama dari kegiatan
tersebut.
3. Why : Menjelaskan secara spesifik makna kegiatan
tersebut, menjelaskan
sejelas-jelasnya tujuan dan
manfaat dari setiap kegiatan.
4. When
: Kapan kegiatan itu akan dilaksanakan.
5. Where : Dimana kegiatan tersebut diadakan.
6. How : Bagaimana kegiatan tersebut akan dijalankan. Garis
besar acara,
rencana, pelaksanaan program, metode
apa yang digunakan, bahan
bahan, rencana dan waktu, dan kebutuhan akan
manajemen.
Dalam
kegiatan outbound training
memang tidak mungkin dapat 100 persen mengubah kecerdasan emosional
seseorang hanya oleh kegiatan yang dilakukan 1 sampai 4 hari saja. Tapi
kegiatan outbound training
terutama yang dirancang untuk tujuan-tujuan tertentu bisa menjadi starting point (titik pijak) bagi
seseorang untuk menemukan konsep diri dan perilaku yang lebih baik pada
hari-hari berikutnya.
Dengan
konsep-konsep interaksi antara peserta outbound
dan dengan alam, melalui kegiatan simulasi di alam terbuka, diyakini dapat
memberikan suasana yang kondusif untuk membentuk sikap, cara berfikir, dan
persepsi kreatif dan positif dari setiap peserta outbound guna membentuk rasa kebersamaan, keterbukaan, toleransi,
dan kepekaan yang mendalam yang pada harapannya akan mampu memberikan semangat,
inisatif, dan pola pemberdayaan baru dalam kehidupannya.
Melalui
simulai outdoor activities (outbound
training) ini peserta juga akan mampu mengembangkan potensi diri,
baik secara individu (personal development),
maupun dalam kekompakan tim (team
development) dengan melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi yang
efektif, manajemen konflik, kompetisi, kepemimpinan, manajemen resiko, dan pengambilan
keputusan serta inisiatif.
BAB IV
KESIMPULAN
Dekade
5-7 tahun terakhir, Outbound training menjadi
salah satu primadona training di
Indonesia. Banyak manajemen perusahaan yang melirik danmenginvestasikan training karyawannya melalui outbound training atau Management Outbound. Metode experential learning yang satu ini mampu menghadirkan nuansa baru
dengan kemasan berbeda dibanding training konvensional selama ini, hanya di
dalam kelas, formal dan membosankan.
Bermain
tapi bukan main-main. Fun tapi full learning point. Inilah unsur
lebihmanagement outbound training yang ditawarkan. Balajar melalui proses
mengalami sendiri, berinteraksi secara intens sambil belajar dengan rekan
sehari-hari dalampekerjaan melalui simulasi game yang dilakukan di alam
terbuka, adalah pengalaman penuh makna.
Apapun
jenisnya, outbound dengan berbagai jenis petualangan (adventure) dan permainan
(games) yang biasa dijalankan sebenarnya memiliki manfaat yang beragam.
Diantaranya adalah :
1.
Komunikasi efektif (effective communication)
3.
Pemecahan masalah (problem solving)
4.
Kepercayaan diri (self confidence)
5.
Kemepimpinan (leadership)
6.
Kerjasama tim (sinergi)
7.
Permainan yang menghibur (fun games)
8.
Konsentrasi / focus
9.
Kejujuran / sportivitas.
Ragam
manfaat tersebut bermuara pada tercapainya pengembangan diri (personal
development) dan tim (team development) yang dapat dirasakan oleh para peserta
outbound. Karena sukses seseorang dalam hidupnya terutama dalam karier
bisnisnya dan organisasi sangat ditentukan oleh kepercayaan diri (self
confidence), kemampuan mengontrol emosi, dan kemampuan berinteraksi dengan
orang lain.
Para
pakar dibidang kecerdasan emosi berpendapat bahwa sukses dalam karier di perusahaan
(juga di ranah kehidupan lainnya) lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional
dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Oleh karena itu upaya untuk
mengembangkan kecerdasan emosional mendapatkan perhatian yang semakin besar.
Dengan semakin berkembangnya olahraga
rekreasi di Indonesia, ini menandakan semakin meningkat pula faktor ekonomi
dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya operator-operator
olahraga rekreasi ataupun outbound
training yang bermunculan di Indonesia, khususnya di Sumatera utara. Hal
ini sebenarnya merupakan peluang bagi masyarakat untuk berwirausaha ataupun
berkecimpung dalam penjualan jasa olahraga ini. Akan tetapi dengan semakin
banyaknya operator yang bermunculan, maka hal ini menandakan semakin ketat pula
persaingan yang terjadi. Setiap operator dituntut untuk memberikan pelayanan
atau service yang terbaik, sehingga
dibutuhkan pengelolaan serta pengaturan yang tepat atau yang biasa disebut
dengan management training sport.
Kepada
pihak Pengelola, Operator, maupun Instruktur diharapkan
untuk terus melakukan
pengembangan serta meningkatkan pelayanan dan pengetahuannya sehingga masyarakat dapat lebih
merasa nyaman dan puas
ketika melakukan aktifitas ini agar kegiatan ini dapat semakin berkembang .
Diharapkan pula Kepada pemerintah
setempat, agar dapat membantu
pengembangan Olahraga rekreasi ini dengan menyediakan wadah serta perkumpulan
yang dapat memberikan
standarisasi dan sertifikasi kepada orang-orang yang layak menjadi instruktur
ataupun operator dan kegiatan ini. Sehingga
kegiatan ini dapat dilakukan dengan nyaman dan aman oleh masyarakat serta
membuka peluang kerja baru di tengah-tengah masyarakat kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ancok Djamaludin, 2002. Outbound. Management Training. Aplikasi Ilmu Prilaku dalam
Pengembangan
Sumber Daya Manusia. Pusat
Outbound H-Read UII, Yogyakarta
Ancok Djamaludin, 2003. Outbound Management Training. Aplikasi Ilmu
dalam Pengembangan
Manajemen. Pusat Outbound H-Read UII ,Yogyakarta
Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, PT. Adi
Mahastya, Jakarta.
Damanik Suryadi dan
Yunis Sabaruddin, (2011), Olahraga
Rekreasi,Depdikbud,
Medan.
Darsono N dan Setria,
2008, Olahraga Alam, PT. Perca,
Jakarta.
Dinata Marta dan Tina
wijaya. 2007. Outward Bound. Cerdas
Jaya, Jakarta
Gunawan,
Mira P dan Ina Herlina, 2000, Garis Besar
Perencanaan
Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata di Tingkat lokal dan Wilayah,Pusat
Penelitian Kepariwisataan Institut Teknologi, Bandung.
Marpaung Happy, Bahar
Herman, (2002). Pengantar Pariwisata. PT. Alfabeta,
Bandung.
Muchlisin
, Asti, Badiatul. 2009. FUN OUTBOUND
(Merancang Kegiatan Outbound yang efektif).
Diva
Press, Yogyakarta.
Pitana Gde, Gayatri
Putu, 2005, Sosiologi Pariwisata, PT.
ANDI, Yogyakarta.
Ritonga Parlaungan,
dkk, 2012 , Bahasa Indonesia Praktis,
Bartong Jaya,
Medan.
Soekadijo,R.G., 2000,
Anatomi Pariwisata, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Spilane,J.James,1994, Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan
Rekayasa
Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta.
UU RI No. 3 Tahun
2005, (2007), Sistem Keolahragaan Nasional, Citra
Umbara, Bandung.
Wardiyamto, 2011, Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata,CV.Lubuk
Agung, Bandung.

terimakasih infonya....:)
BalasHapusSama-sama semoga bermanfaat
Hapusterima kasih gan
BalasHapusSama-sama semoga bermanfaat
Hapus